Senin, 12 Agustus 2013

Living in a War Zone: Syria




Every muslim is brother. Like one building, where one component strengthens other parts, and so on. Like one body, if the eye is in pain, then the whole body gets pain too. We and our brothers in faith are like a hand and a pair of eyes in one body. When the hand is scratched, tear will drop from the eyes. And when the tear flows, the hand will wipe those tears.

Now one of our body parts is in pain. Syria has been in chaos since a war started there two years ago. Bloodsheds, teardrops, massacres, and murders have become daily sightings in that country.
In a report released by Syrian Observatory for Human Rights on 26 June 2013, it was mentioned that Syria death toll has reached 100.191 since the beginning of the war, while civilians accounted for more than one-third of the overall fatalities. Another information that was released by United Nations reported that 6.561 children have been killed during the war. UNHCR also reported that the number of Syrian refugees has reached 1.700.000.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Merbabu: Harga Sebuah Jembatan (Bag.3)

Aku Suka Hujan, Tapi...

Sesampainya di basecamp kami beristirahat sebentar. Sembari memesan makan sebagai ‘bensin’ untuk motor otot kami bekerja. Saat itu sekitar jam 10.30. Tentu saja rombongan kami tidak sendiri. Sebelum kami telah tiba rombongan besar dari Solo. Jumlahnya sekitar 27 orang. Mereka juga tengah bersiap untuk melakukan pendakian, kala itu mereka sedang makan. Seusai makan dengan lauk telur dadar, saya melapor pada basecamp. Nama, nomer HP semua anggota tim diminta untuk dituliskan di buku besar layaknya buku kehadiran saat kondangan. Tak lupa tertulis juga tanggal naik, turun, dan jalur turun. Saat itu kami berencana turun esokan hari namun tidak melalui jalur Selo lagi, melainkan jalur Wekas, Magelang.

Urusan perut dan administrasi selesai. Seusai berfoto di depan basecamp dan memanjatkan doa, kami berangkat. Kala itu langit sudah tidak tahan membendung air hujan. Hujan rintik-rintik menemani start pendakian kami. Aku mendapat tugas sebagai sweaper di belakang. Peran yang menurutku saat itu membosankan namun memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Seorang sweaper harus tetap berada di belakang tim apapun yang terjadi. Fungsinya, agar tidak ada satupun anggota tim yang tertinggal. Jelas tugas ini berkonsekuensi pada kemampuan fisik yang baik dan yang paling penting, kesabaran.

Merbabu: Perjalanan Ini Dimulai (Bag.2)

Merbabu, We’re Coming

Jalur Selo Boyolali (Jelas bukan jalur untuk pemula) adalah jalur yang disahkan oleh rapat paripurna LDR Tim melalui conversation group di facebook. Kreta Api Brantas Pasar Senen – Solo Jebres adalah moda transportasi yang kami pilih. Hanya dengan membayar Rp 45.500 kami telah dapat satu tiket menuju Solo, St Solo Jebres tepatnya. Harga yang cukup murah. Saat itu kami terabagi menjadi dua tim. Empat orang berangkat dari Depok, yaitu Aku, Aini, Dery, dan Ridha. Sedangkan Ade berangkat dari Jogja dan Dedew dari Solo. Assembly Point kami tentu saja St Solo Jebres.

And... This is it, perjalananpun dimulai. Jum’at, 15 Februari 2013 kami (rombongan depok) berkumpul di stasiun UI selepas shalat Jum’at. Aku datang pertama dengan carrier cozmeed 60 liter hasil pencarianku memalak teman-teman yang sering naik gunung. Dery gagah dengan carrier Eiger hitam-hijau berukuran sekitar 50 liter. Dan Aini terlihat tangguh namun tetap anggun dengan carrier Deuter-nya berwarna biru dominan. Ridha? Oh ya, aku lupa menceritakan kalau Ridha masih ada kuliah di Bandung pada hari jumat pagi itu. Sehingga kami memutuskan untuk bertemu langsung di st. Pasar Senen Jakarta. Namun untuk memuliakan wanita, akulah yang menjadi utusan tim untuk menjemputnya di St Gambir. Sedangkan yang lain langsung naik metromini dari st Cikini ke Ps Senin, aku harus turun dulu di Gambir untuk menjemput calon Guru masa depan bangsa tersebut. (well, maaf kalau agak lebay)

Merbabu: Awal Sebuah Cerita (Bag. 1)

Titik Awal Ide Tak Terduga

Liburan Semester 5, Januari 2013. Terselip rasa rindu akan pertemuan dengan sekawanan pejuang di ranah ‘dakwah’ SMA dahulu. Kami mengenalnya dengan nama Rohis. Hampir tiga tahun sudah raga tak lagi bersua. Kalaupun ada kesempatan untuk saling bertatap muka, hanya momen-momen tertentu yang menjadi jembatannya. Standar, sama halnya dengan pemuda yang lainnya, buka puasa bersama di bulan Ramadhan, dan momen halal bi halal saat Idul Fitri. Selebihnya, sosial media menjadi obat kerinduan kami.

Saat itu masih dalam suasana libur menjelang semester 6 kuliah kami. Aku tak ingat tepatnya. Tetiba jemari mengetik ajakan untuk dapat bertemu kembali dengan teman-teman SMA melalui comment dalam sebuas status facebook, kali ini bukan dengan jembatan lama yang setiap orang mudah melewatinya. Kami mebuat jembatan kami sendiri. Hiking. Ya, kami memutuskan untuk melaksanakan sebuah perjalanan yang berbeda untuk pertemuan kami. Merajut persahabatan kembali sembari mencoba bersahabat dengan alam lebih dekat.

Jumat, 09 Agustus 2013

Ranking 6 Kualitas SDM Indonesia di ASEAN, Siapkah Indonesia Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015? (Jilid 2)

Kondisi Kesiapan SDM indonesia dalam menghadapi MEA

Ada beberapa data yang tersedia yang dapat dijadikan alat untuk menganalisa posisi kualitas sumber daya manusia Indonesia dibandingkan dengan negara ASEAN yang lainnya.

Human Development Index (HDI) Indonesia

Indonesia masih menempati peringkat 121 dari 187 negara yang di komparasikan oleh lembaga dibawah PBB UNDP (United Nations Development Programme). Dari tiga dimensi yang diukur oleh UNDP kualitas bobot dimensi pembangunan manusia yang tertinggi adalah kesehatan (0,785) dikuti oleh pendidikan (0,577) dan ekonomi (0,550) dengan total HDI adalah 0,629. Grafiknya penulis sajikan sebagaimana berikut:



(Gambar 1: Grafik HDI Indonesia 2012)

Ranking 6 Kualitas SDM Indonesia di ASEAN, Siapkah Indonesia Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015? (Jilid 1)

Pentingnya Kesiapan SDM dalam Menghadapi MEA

Selintas Pandang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

ASEAN Economic Communitiy (AEC) atau yang biasa kita kenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah sebuah integrasi kawasan ASEAN dalam hal ekonomi. kata kunci yang biasanya disebutkan dalam mendeskripsikan MEA adalah “liberalisasi”.

Berawal dari ASEAN Summit ke-2 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 1997 dicetuskan adanya Visi ASEAN 2020. Yang pada perkembangannya di kembangkan menjadi 3 (tiga) elemen utama untuk mewujudkan Visi ASEAN 2020 tersebut. Elemen tersebut adalah ASEAN Economic Community, ASEAN Political-Security Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. Adapun karena momentum perekonomian dunia yang ada, maka ASEAN Economic Community diputuskan untuk dipercepat implementasinnya dari seharusnya pada 2020 menjadi 2015.

Rabu, 09 Januari 2013

Nilai Ekonomi Rokok

Beberapa saat yang lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah desa di bilangan kota Garut, Jawa Barat. Sebuah desa yang indah, berisikan penghuni yang sangat ramah dan agamis yang terikat dalam tali kekeluargaan yang menghangatkan. Namun tanpa mengurangi kebanggaan atas hal diatas, ada satu hal yang membuat saya miris, yakni budaya merokok yang telah mengakar. Adalah sebuah hal yang aneh bagi mereka bila seorang laki-laki yang sudah besar tidaklah merokok. Bahkan ketika bermalam di salah satu rumah warga, ada teman yang ‘dipaksa’ untuk merokok (dan akhirnya merokok) padahal ia bukanlah perokok. Ketika saya tanya kepada salah satu penduduk berapa bungkus rokok ia habiskan tiap hari, 3 bungkus adalah jawabannya. Hal ini bukanlah ‘keistimewaan’ desa yang saya sebut diatas saja, sebagian besar tempat terutama di daerah pegunungan di negeri kita ini memiliki culture yang sedikit banyak mirip. Pada tulisan kali ini saya merasa perlu untuk berbagi dengan kawan-kawan terkait dengan fenomena ini.